skip to main | skip to sidebar

About me

Unknown
Lihat profil lengkapku

Archivo del blog

  • ▼ 2009 (4)
    • ▼ Desember (2)
      • belajar bisnis internet
      • cari uang di internet
    • ► Januari (2)

sisilain: HIJAU ITU MENYEJUKKAN, SEJUK ITU LAKSANA AIR, AIR ITU MEMBERSIHKAN, BERSIH ITU KEIKHLASAN

sudahkah kita hidup laksana air yang selalu menyejukkan dan yang senantiasa ikhlas

belajar bisnis internet

Jumat, 25 Desember 2009

dadang
belajar bisnis internet

Diposting oleh Unknown di 09.10 0 komentar  

Label: image2

cari uang di internet

dadang
daddada

Diposting oleh Unknown di 08.45 0 komentar  

Label: image 1

HARI INI BAWAHAN BESOK ATASAN

Kamis, 22 Januari 2009

Pernahkah anda mendengar seseorang mengatakan:”Boleh jadi, bawahan anda akan menjadi atasan anda pada suatu saat kelak….”. Tidak banyak atasan yang menyadari kenyataan ini, sekaligus bersedia menerima konsekuensi yang ditimbulkannya. Dan, lebih sedikit lagi atasan yang bahkan dengan ’sengaja’ melakukan ’sesuatu’ untuk membantu bawahannya menapak lebih tinggi dari dirinya sendiri. Meskipun pada kenyataannya, ada banyak bukti bahwa para bawahan cemerlang melejit karirnya hingga menjadi atasan bagi para mantan atasannya. Apakah anda menemukan fenomena serupa ini dilingkungan kerja anda?

”Gue resign aja deh….” begitu kata seorang teman. Dia lebih suka pindah ke perusahaan lain daripada harus menjadi bawahan bagi orang yang pernah menjadi bawahannya. Secara mental, dia tidak siap menghadapi situasi terbalik seperti itu. Sulit menerimanya karena ada ganjalan psikologis didalam dirinya. Dia dikuasai rasa gengsi. Merasa diri lebih senior. Lebih superior. Dan rupanya, tidak sedikit orang yang bersikap seperti itu.

Banyak orang yang mengatakan bahwa; promosi tidak dilakukan secara transparan. Sarat dengan kolusi. Dilatarbelakangi diskrimanasi. Dan penuh dengan perbenturan berbagai kepentingan. Akibatnya, orang mendapatkan posisi lebih tinggi tanpa didukung oleh kemampuan yang memadai. Sehingga;”berseliweranlah para ‘anak kemarin sore’ dijajaran manajer senior perusahaan”. Mungkin betul begitu. Mungkin juga sekedar alasan belaka. Tapi, konteks diskusi kita saat ini tidak sedang membahas aspek itu. Jadi, mari kita fokuskan pembahasan kita kepada kenyataan bahwa :”Boleh jadi, bawahan kita akan menjadi atasan kita pada suatu saat kelak….” Let’s accept the fact, and let’s deal with it.

Bagi kita, hal ini memiliki dua implikasi. Pertama; seandainya kita adalah sang atasan itu. Bagaimana kita menghadapi kemungkinan seperti itu? Kemungkinan ketika bawahan kita menjadi atasan bagi kita. Mustahil? Tidak.

Maka, penting bagi kita untuk memiliki paradigma positif. Jika ada bawahan yang memiliki kualitas dan kinerja yang lebih baik dari kita; bukankah itu baik bagi kita maupun organisasi itu sendiri? Memang, idealnya kita naik posisi terus menerus, sehingga setinggi apapun bawahan kita naik; kita masih berada diatasnya. Namun, bukankah didunia nyata tidak selalu terjadi hal sedemikian?

Mari cermati kalimat ini;”Guru yang baik bukanlah mereka yang mau mengajarkan semua hal yang diketahuinya. Melainkan, mereka yang bersedia membantu muridnya membuka tabir-tabir pengetahuan yang belum pernah terpecahkan.” Apa yang kita ketahui sangatlah terbatas. Sehingga, mengajarkan semua yang kita tahu tidak akan bisa menjadikan generasi masa depan lebih baik dari kita. Jika hal ini berlaku dalam hubungan antara guru dan murid, dapatkah juga terjadi dalam hubungan antara atasan dan bawahan?

Seorang guru sejati akan bahagia ketika mendapati muridnya lebih hebat dari dirinya sendiri. Demikian pula seorang atasan yang hebat. Dia bahkan membuka jalan, supaya bawahannya bisa menapak lebih tinggi. Tanpa ada rasa iri. Tiada pula kecemburuan. Yang ada, hanyalah kebanggaan didalam dirinya. Meskipun – biasanya - seseorang yang telah menapak tinggi lupa bahwa; ada peran atasannya dalam pencapaian yang diraihnya. Jadi, tidak mengherankan jika mereka kerap berkata;”I did it myself.” Tapi, seorang atasan sejati; tidak terlampau merisaukannya.

Implikasi kedua; seandainya kita sang bawahan itu. Bukti bahwa seorang bawahan bisa menapak jenjang karir yang lebih tinggi dari atasan, cukup untuk meyakinkan diri kita bahwa masa depan kita bisa jauh lebih baik dari yang dapat kita bayangkan.

Sering kita dengar orang yang mengeluh bahwa karirnya tidak berkembang karena atasannya tidak cukup memberi bimbingan. Bisa iya. Bisa juga tidak. Lagipula, kita tahu bahwa tuntutan perusahaan semakin banyak, sementara jumlah karyawan bahkan semakin berkurang. Sehingga para pemegang posisi kunci semakin terbatas waktunya untuk menyuapi kita. Atau mengajarkan kepada kita tentang ini dan itu. Mengharapkan mereka selalu ada disamping kita membuktikan bahwa memang kita bukan orang yang bisa diandalkan. Lagipula, mengapa atasan kita harus memberi penilaian istimewa kepada orang-orang yang bisanya hanya bergelantung diketiak mereka?

Disisi lain, kita juga sering terjebak pada anggapan bahwa; ’kemampuan teknis adalah segala-galanya’. Padahal, kemampuan teknis hanyalah satu dari sekian banyak faktor penting. Jadi, orang-orang yang hanya hebat secara teknis, hanya layak untuk menjadi pelaksana. Bukan pemimpin. Itulah sebabnya, mengapa orang-orang yang hebat secara teknis; sering tersingkir. Repotnya, mereka merespon situasi ini dengan menyimpulkan bahwa manajemen telah pilih kasih. Mereka merasa; proses assesment tidak fair.

Kita, harus keluar dari pola pikir semacam itu. Sebab, jika terjebak didalamnya; kita tidak akan pernah mengetahui apa yang harus diperbaiki. Kita mengira bahwa semua kualifikasi itu sudah kita miliki. Padahal, ada orang lain yang lebih baik dari kita. Seperti halnya anda yang tidak ingin dipimpin oleh orang yang sekedar jago dalam hal-hal teknis; maka tentu orang lainpun tidak ingin anda yang hanya menguasai aspek teknis itu tampil menjadi pemimpin. Sebaliknya, ketika kemampuan teknis anda dipadukan dengan sikap positif, kemampuan membangun hubungan yang produktif baik dengan atasan, bawahan maupun rekan sekerja, serta loyalitas yang tinggi; maka mungkin, memang anda layak mendapatkan kesempatan untuk dipersaingkan dengan orang-orang hebat lainnya.

Note: 
Akan tiba saat dimana para atasan harus digantikan. Siapkah kita, ketika kesempatan itu tiba?

taken from kang dadangk

Diposting oleh Unknown di 10.56 0 komentar  

BALADA SEPOTONG ROTI DAN SEPERCIK API

Anda mempercayai bahwa memberi seseorang kail, jauh lebih mendidik dibandingkan dengan memberinya ikan. Makanya, ada ungkapan ini;”Berikan kail, bukan ikan!” Itu jika anda berada dalam posisi sebagai ’sang pemberi’. Seandainya anda diposisi ’yang diberi’; anda pilih ikan atau kailnya? Saya yakin bahwa keputusan anda akan bias. Entah karena anda merasa gengsi kalau memilih ikan. Atau, mungkin anda memang tukang mancing ikan. Karena itu, saya tidak meminta anda untuk memilih diantara ikan atau kail. Saya justru ingin anda memilih; diantara sepotong roti dan sepercik api. Mana yang akan anda pilih; roti atau api?

Saya tidak akan mencampuri keputusan anda. Namun, sebelum saya membahas lebih lanjut, tentukan pilihan anda; roti atau api? Itu penting bagi anda, karena dalam sejarah umat manusia; ada seorang pribadi besar yang kisah hidupnya sangat berkaitan dengan keputusannya untuk memilih diantara roti dan api. Anda ingat siapa orang itu? Ya, dia adalah Nabi Musa sang kekasih Tuhan. Dijaman ketika dia dilahirkan, ahli nujum meramalkan bahwa Firaun akan dikalahkan oleh bayi laki-laki yang dilahirkan pada suatu rentang waktu khusus. Oleh karena itu, Firaun memerintahkan untuk membunuh semua bayi lelaki yang dilahirkan pada masa itu. Sedangkan istri Firaun, menyembunyikan seorang bayi lelaki yang sangat menarik hatinya.

Apa yang terjadi ketika Fiarun menemukan bayi lelaki itu? Dia memerintahkan untuk membunuhnya. Sang ratu tentu keberatan. Sehingga, akhirnya mereka bersepakat untuk melakukan ujian. Anda tahu ujiannya seperti apa? Dihadapan sang bayi disediakan dua pilihan; roti dan api. Jika bayi itu memilih api, maka dia akan diijinkan untuk hidup. Tetapi, jika dia memilih roti, maka dia harus mati! Nah, sekarang perhatikan kembali pilihan anda tadi….

Sebenarnya, ada apa diantara roti dan api? Begini. Roti, adalah produk dari serangkaian proses yang panjang. Untuk mendapatkan sepotong roti anda harus melibatkan sekurang-kurangnya seribu orang yang tak kelihatan. Seribu orang? Ya. Ada petani yang menanam gandum. Buruh yang menyiangi rumput. Kuli angkut. Sopir truk. Penjual bensin. Pembuat oven. Pedagang loyang. Pertenak telur ayam. Karyawan pabrik gula. Mereka adalah bagian dari ribuan orang tak terlihat untuk membantu anda mendapatkan sepotong roti.

Pertanda apa ini? Ini adalah pertanda bahwa untuk sepotong roti yang anda makan; anda berhutang budi kepada ribuan orang. Tetapi, mengapa Tuhan memberi pertanda melalui roti dan api? Roti, tiada lain adalah isyarat kenikmatan. Sehingga, Musa yang masih bayi itu mengajarkan kepada kita sebuah moral bahwa semua kenikmatan dan pencapaian hidup yang kita dapatkan – tidak ada yang terlepas dari kontribusi orang lain. Bayi Musa mengajarkan; jangan lupakan fakta itu!

Roti juga adalah simbol dari kekayaan. Coba anda perhatikan; adakah satu sen saja dari harta yang anda miliki itu diperoleh tanpa peran orang lain? Pasti tidak ada. Harta anda, semuanya didapatkan atas jasa dan bantuan serta kontribusi orang lain. Oleh karena itu, orang kaya yang sombong tak ubahnya seperti manusia pandir yang tidak menuruti ajaran Sang Nabi.

Roti adalah jabatan. Perhatikan jabatan yang anda sandang itu. Bisakah anda mendapatkan jabatan itu tanpa dukungan dan bantuan serta kontribusi orang lain? Jika kita pejabat publik, kita mendapatkannya karena ribuan bahkan jutaan orang mempercayakan pilihannya kepada kita dibilik suara. Jadi, para pejabat publik yang mengabaikan rakyatnya tidak ubahnya seperti manusia durhaka yang lupa bahwa jabatannya adalah titipan dari orang-orang yang dipimpinnya. Dia lupa kalau Sang Nabi mengajarkan bahwa roti itu dibuat oleh ribuan bahkan jutaan orang tak terlihat.

Roti adalah jabatan. Jika anda pejabat perusahaan. Supervisor, Manager, Direktur, atau CEO sekalipun. Bisakah anda mendapatkan jabatan itu tanpa orang lain? Tunjukkan kepada saya satu orang saja manusia dimuka bumi ini yang memiliki jabatan tinggi dengan hasil yang diusahakannya sendiri; jika itu ada. Jadi, jika seorang pejabat perusahaan besar kepala, sok kuasa, dan memperlakukan anak buahnya semena-mena; maka dia tak ubahnya seperti manusia yang lupa diri. Padahal, sang Nabi bilang; roti yang kamu nikmati itu, adalah hasil jerih payah orang lain.

Sedang api, adalah salah satu unsur murni di alam. Artinya, alam menyediakan api tanpa campur tangan manusia sekalipun. Jika anda malih rupa menjadi belatung, lalu anda masuk kedalam bumi sedalam-dalamnya, maka anda akan bertemu dengan sumber api. Jika anda memilih menjadi seekor capung, lantas terbang menuju matahari; maka anda juga akan menemukan api.

Mengapa Sang Nabi yang masih bayi itu memilih api? Ternyata, itu merupakan makna simbolik penuh arti. Seolah melalui Sang Nabi, Tuhan hendak menyampaikan sebuah wahyu. Seperti yang dirangkum didalam dua aspek berikut ini:

Pertama, menghindari roti. Keluarlah dari perebutan atas sepotong roti. Perhatikan, dijaman ini; orang-orang sibuk berebut sepotong roti. Berlomba rebutan kekayaan. Berkompetisi meraih simpati untuk mendapatkan kekuasaan. Sikut-sikutan untuk memperoleh kursi dan jabatan di perusahaan. Sikut kiri. Tonjok kanan. Injak bawah, tendang depan, kentut belakang. ”Keluarlah dari sana!” kata Sang Nabi. ”Dan merdekakan dirimu dari jeratan pesona sepotong roti”.

Kedua, memilih api. Milikilah unsur api yang murni. Karena api adalah simbol dari daya hidup yang membara dan semangat mengelora. Biarkan api itu memberi sinar bagi dirimu. Dan ijinkan dunia terang benderang karenamu. Ketika memilih api, Sang Nabi menghidupkan jiwanya dengan unsur yang paling murni. Dan dengannya dia memancarkan berkas-berkas cahaya keseluruh penjuru bumi.

Sekarang, perhatikan kembali pilihan anda tadi.
Jika anda memilih roti, anda benar. Dengan roti itu anda akan menjadi kenyang. Lagipula, seseorang harus memilih roti, agar kehidupan manusia bisa tertata rapi. Yang perlu anda lakukan adalah; hendaknya anda selalu ingat bahwa ada ribuan orang yang tidak anda kenal telah memberikan kontribusinya, kepada sepotong roti yang anda miliki. Kepada kekayaan anda. Kepada kedudukan anda. Kepada jabatan anda. Ingatlah mereka. Dan berbuat baiklah dengan roti yang anda miliki itu. Sebab, jika anda menjadi sewenang-wenang; maka anda telah mengkhianati mereka.

Jika anda memilih api. Tetapkanlah hati anda dengan pilihan itu. Karena, meskipun anda tidak kekenyangan; namun anda mempunyai cahaya yang bisa menjadi penerang. Semoga, api yang anda pilih itu menjadikan jiwa anda semakin hidup dalam terang. Sehingga, terang anda; bisa menjadi petunjuk bagi para pemilik roti, dan pengembara serta para pencari cahaya. Karena, ketika anda memilih api; sesungguhnya anda telah dipilih Tuhan, untuk menjadi pembawa terang. Seperti Tuhan telah memilih Musa, untuk membawa umatnya menuju pencera

Note: 

Ada satu kenyataan hidup yang harus kita terima, bahwa; tak satupun pencapaian pribadi yang kita dapatkan tanpa kontribusi orang lain. Malu kita, jika semua pencapaian itu tidak menjadikan diri kita manusia yang semakin berarti bagi mereka yang telah rela berkontribusi.

taken from kang dadang

Diposting oleh Unknown di 10.50 0 komentar  

Langganan: Komentar (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod

Work under CC License.

Creative Commons License